Golongan Bahan Galian


Bahan galian merupakan mineral asli dalam bentuk aslinya, yang dapat ditambang untuk keperluan manusia. Mineral tersebut dapat terbentuk dari berbagai macam proses, seperti kristalisasi magma, pengendapan dari gas dan uap, pengendapan kimiawi dan organik dari larutan pelapukan, metamorfisme, presipitasi dan evaporasi, dan sebagainya (Katili, R.J., 1996).


Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 27 tahun 1980, bahan galian dibagi menjadi 3 (tiga) golongan. Penggolongan bahan-bahan galian didasari pada :

  1. Nilai strategis / ekonomis bahan galian terhadap Negara
  2. Terdapatnya sesuatu bahan galian dari alam
  3. Penggunaan bahan galian bagi industri
  4. Pengaruhnya terhadap kehidupan rakyat banyak
  5. Pemberian kesempatan pengembangan pengusaha
  6. Penyebaran pembangunan di daerah


Bahan galian tersebut digolongkan sebagai berikut :

1. Golongan Bahan Galian yang Strategis (Golongan A)
Bahan galian strategis berarti strategis untuk pertahanan dan keamanan serta perekonomian negara. Golongan ini terdiri dari :
  • Minyak bumi, bitumen cair, lilin bumi, gas alam
  • Bitumen padat, aspal 
  • Antrasit, batubara, batubara muda 
  • Uranium, radium, thorium, dan bahan-bahan galian radioaktif lainnya
  • Nikel, kobalt
  •  Timah
2.  Golongan Bahan Galian yang Vital (Golongan B)
Bahan galian vital berarti dapat menjamin hajat hidup orang banyak. Golongan ini terdiri dari :
  • Besi, mangan, molibden, khrom, wolfram, vanadium, titan
  • Bauksit, tembaga, timbal, seng
  • Emas, platina, perak, air raksa, intan
  • Arsen, antimon, bismut
  • Rhutenium, cerium, dan logam-logam langka lainnya
  • Berillium, korundum, zirkon, kristal kuarsa
  •  Kriolit, fluorpar, barit
  • Yodium, brom, khlor, belerang
 3. Golongan Bahan Galian yang Tidak Termasuk Golongan A atau B
Bahan galian yang tidak termasuk bahan galian strategis dan vital berarti karena sifatnya tidak langsung memerlukan pasaran yang bersifat internasional. Golongan ini terdiri dari :
  • Nitrat, pospat, garam batu (halite)
  • Asbes, talk, mika, grafit, magnesit
  • Yarosit, leusit, tawas (alum), oker
  • Batu permata, batu setengah permata
  • Pasir kuarsa, kaolin, feldspar, gips, bentonit
  • Batu apung, tras, obsidian, perlit, tanah diatome, tanah serap (fullers earth)
  • Marmer, batu tulis
  • Batu kapur, dolomit, kalsit
  • Granit, andesit, basalt, trakhit, tanah liat, dan pasir sepanjang tidak mengandung unsur-unsur mineral golongan A maupun golongan B dalam jumlah yang berarti yang ditinjau dari segi ekonomi pertambangan 

Sumber : Tugas Kuliah Bahan Galian Industri

Penyanggaan Tambang Bawah Tanah - Penyangga Aktif

Regards Michanarchy ...

LAPORAN PRAKTIKUM
TAMBANG BAWAH TANAH
2013


Penyangga aktif ini bersifat melakukan reaksi langsung (yield) dan memperkuat batuan tersebut secara langsung (reinforcement). 

a. Macam-Macam Penyangga Aktif

Berikut macam-macam penyangga yang merupakan penyangga secara aktif :

1) Baut Batuan

Baut batuan termasuk penyangga aktif karena mempunyai sifat memperkuat massa batuan secara langsung dimana penyangga dipasang merupakan bagian dari massa batuan. 
Keuntungan dari penggunaan baut batuan ini antara lain :

a) Lebih fleksibel, dapat digunakan dalam bentuk geometri yang bervariasi.
b) Penghematan biaya material.
c) Pemasangannya dapat sepenuhnya dengan mekanisasi, sehingga relatif lebih cepat.
d) Tahan terhadap korosi.
e) Kerapatannya (jumlah baut batuan per satuan luas) dengan mudah dapat disesuaikan dengan kondisi batuan lokal.
f) Dapat dikombinasikan dengan penyangga seperti wire mesh dan penyangga pasif.

Kerugian dari penggunaan baut batuan ini antara lain :

a) Penyimpanan atau penanganan harus hati-hati, karena dapat mempengaruhi kehandalan pemasangan baut batuan.
b) Pemasangan baut batuan memerlukan pemantauan dan pengujian yang khusus serta prosedur yang baik dan benar. Disamping baut batuan ada penyangga lain yang dinamakan doweling. Prinsip kerjanya sama dengan pemasangan baut batuan tetapi sifatnya hanya sementara dan umumnya digunakan untuk lubang-lubang produksi.

Baut Batuan

 Rock Bolt

Rock Bolt


2) Hydraulic Props

Hydraulic props merupakan tiang penyangga yang pada dasarnya terdiri dari 2 (dua) silinder dimana silinder yang satu bergerak di dalam silinder yang lainnya, mekanismenya menggunakan sistem hidrolik. 
Penyangga ini umumnya digunakan untuk penyangga sementara pada lubang-lubang produksi, lubang bukaan untuk pelayanan, dan penambangan. 

 Single Prop - Kappe

Penerapan Single Prop


3) Powered Roof Support (PRS)

Powered roof support (PRS) merupakan suatu bentuk penyangga yang diterapkan di suatu tambang batubara di penambangan longwall.
Penyangga ini tidak berfungsi menyangga atap, tetapi juga untuk mendorong conveyor bergerak maju dengan tenaga hidrolik.

 Powered Roof Support (PRS)

 Drum Shearer

Penerapan PRS pada Longwall


b. Alat-Alat Penyangga Aktif

Berikut alat-alat yang digunakan pada penyangga aktif, antara lain :


1) Roof Bolting

 
 Roof Bolting

Roof Bolting


2) Handeld Boltsetter
   
Handeld Boltsetter


3) Fretter Boltsetter 

  Fretter Boltsetter


4) Tell Tale
   
Merupakan peralatan pemantauan deformasi batuan secara visual.

Tell Tale


5) Extensometer
  
Mengukur secara elektronik jarak antara magnetic anchor yang terpasang secara fix di dalam lubang. Keakuratannya diatas 0,1 mm. Biasanya 1 titik tiap 200 m.

Extensometer
   

Penyanggaan Tambang Bawah Tanah


Regards...Michanarchy...



LAPORAN PRAKTIKUM
TAMBANG BAWAH TANAH
2013


Adanya kegiatan penyanggaan pada tambang bawah tanah yang berfungsi untuk menyangga batuan yang potensial untuk runtuh serta menahan / menghentikan perpindahan lubang bukaan. Tujuan dibuatnya penyanggaan tersebut yaitu untuk mempertahankan luas dan bentuk bidang penampang yang cukup dan melindungi pekerja dari resiko tertimpa runtuhan. 


Didasarkan pada sifat penyanggaan, jenis penyangga dapat dibagi menjadi 2 (dua), yaitu penyanggaan aktif dan penyangga pasif.


A. Penyangga Aktif

B. Penyangga Pasif

Sistem Peralatan Tambang Bawah Tanah (Alat Muat)


Regards...Michanarchy...

LAPORAN PRAKTIKUM
TAMBANG BAWAH TANAH
2013


Peralatan tambang bawah tanah merupakan alat yang umum digunakan dan khususnya dirancang untuk tambang bawah tanah. Pengangkutan tambang bawah tanah adalah usaha atau cara mengeluarkan bijih atau bahan galian atau kebutuhan tambang bawah tanah atau hasil dari penambangan bawah tanah. Peralatan dan pengangkutan tambang bawah tanah adalah bagian dari disiplin ilmu pertambangan yang mempelajari seluk beluk peralatan tambang bawah tanah dan proses pengeluaran bahan galian dari bawah permukaan tanah ke permukaan tanah.


Tujuan dari peralatan dan pengenalan tambang bawah tanah yaitu :
  1. Untuk mengetahui seluk beluk tambang bawah tanah.
  2. Untung mengetahui sistem tambang bawah tanah.
  3. Untuk merancang peralatan yang digunakan sesuai dengan metode yang digunakan.

Alat muat yang biasa digunakan pada tambang bawah tanah antara lain :

1. Overshoot Loader

 Merupakan alat muat yang bekerja dengan cara mendorong bucket ke dalam tumpukan material hingga penuh, kemudian bucket diangkat ke belakang melewati mesinnya dan menumpahkan muatan ke alat angkut yang berada di belakangnya tanpa memutar alat muat.
  • Digerakkan dengan udara bertekanan tinggi (hydarulic).
  • Overshoot leader bekerja di drift heading sempit. 
  • Ukuran bucket bervariasi antara 0,14 - 0,60 m3.




2. Gathering Arm Loader

Sering digunakan pada tambang batubara, pada bagian depan dilengkapi dengan alat penggumpal material yang bertumpuk kemudian didorong menuju belt conveyor yang berada di belakang, selanjutnya ke alat angkut berikutnya, dilengkapi dengan klaurel dan digerakkan dengan tenaga listrik.




3. Scraper

Penggunaan scrapper pada tambang bawah tanah apabila metode gravitasi tidak bisa dimanfaatkan 30o – 35o, penggunaan scraper dapat menurunkan biaya development, meningkatkan produksi dan menurunkan biaya timber

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan scrapper :
  1. Sifat material dan kondisi lantai kerja.
  2. Sudut adalah digging angle.
  3. Kapasitas scraper dan berat batuan.
  4. Type hoist yang digunakan dipengaruhi oleh tempat kerja.




4. Slushier

Merupakan suatu alat garuk yang digerakkan dengan udara dimana efek penggerakannya diperoleh melalui suatu garukan yang dihubungkan dengan kawat masuk dalam tumpukan material ke tempat penumpahan, sering digunakan pada screen drift pada dasar scrape


5. LHD (Load Haul Dump)

Alat muat-angkut tambang bawah tanah yang merupakan kombinasi front end loader dengan dump truck mampu memuat, mengangkut, dan menumpahkan material pada alat angkut berikutnya. Tenaga penggeraknya adalah tenaga diesel dan jarak pengangkutan dekat. 


Permodelan Tambang Bawah Tanah (Cut and Fill)

Regards...Michanarchy...


LAPORAN PRAKTIKUM
TAMBANG BAWAH TANAH
2013


Metode ini menggunakan material pengisi (filling material) disamping penyanggaan yang teratur. Keduanya membutuhkan biaya yang tinggi, oleh sebab itu cara penambangan ini menjadi mahal dan hanya endapan-endapan bijih yang bernilai tinggi saja yang dapat ditambang dengan cara ini. 

Fungsi material pengisi :
  1. Tempat berpijak dalam melakukan pemboran dan persiapan peledakan.
  2. Untuk penyangga batuan samping di tempat-tempat yang bijihnya sudah diambil.
  3. Untuk menghindari terjadinya amblesan (surface subsidence).



Syarat Penambangan Cut and Fill

Metode ini cocok untuk endapan-endapan bijih yang memiliki sifat-sifat sebagai berikut :
  • Kekuatan bijih kuat dan keras tetapi di bagian tengah-tengahnya ada yang kurang kompak dan kadang-kadang memerlukan temporary support.
  • Kekuatan batuan samping agak lemah atau kurang kompak.
  • Bentuk endapan bijih tabular atau cebakan deposit dan batasnya kurang teratur atau banyak batuan kosong (barren rock) di antara endapan bijihnya.
  • Kemiringan endapan 35o - 90o untuk yang berbentuk vein.
  • Ukuran endapan 4 - 40 m, tetapi yang umumnya adalah 10 - 12 m.
  • Kadar bijih nilainya tinggi.
  • Kedalamannya dangkal atau dalam.


Cara Penambangan

Pada kebanyakan cut and fill stopping, kemajuan penambangan dilakukan naik sepanjang badan bijih miring. Kemajuan penambangan dilakukan didalam suatu siklus yang meliputi tahapan aktivitas sebagai berikut :
  1. Pemboran dan peledakan untuk batuan berlapis dengan ketebalan 3 m dilakukan pada atap stope.
  2. Scalling dan penyanggaan meliputi pemindahan loose material dari atap dan dinding stope serta cara penempatan penyanggaan.
  3. Pemuatan dan pengangkutan bijih, dimana bijih secara mekanis dipindahkan dari dalam stope ke ore pass, kemudian jatuh ke jalan pengangkutan oleh gravitasi.
  4. Pengisian kembali (back filling) stope yang telah kosong diisi kembali dengan material filling.


Kelebihan Metode Penambangan Cut and Fill

Adapun kelebihan dari metode penambangan cut and fill ini antara lain :
  • Termasuk metode yang luwes, karena metode ini bisa menambang endapan-endapan yang tidak teratur bentuknya, diubah ke metode penambangan yang lain tidak begitu sulit, memungkinkan untuk dilakukannya selective mining, walaupun terbatas.
  • Akibat dari sifat metode ini maka dapat diusahakan mining recovery yang tinggi.
  • Dari front atau lombong dapat sekaligus dilakukan prospecting dan eksplorasi.
  • Batuan samping yang secara tidak sengaja pecah dapat dipakai sebagai filling material sehingga tidak perlu diangkut ke luar tambang.
  • Karena memakai material pengisi maka penyangga kayu bisa dikurangi, surface subsidence dapat dicegah, kemungkinan kebakaran dan pembusukkan juga berkurang.
  • Penambangan bisa dilakukan di beberapa lombong sekaligus sehingga produksi bisa diatur besar kecilnya.


Kekurangan Metode Penambangan Cut and Fill

Adapun kekurangan dari metode penambangan cut and fill ini antara lain :
  • Selain harus menambang bijihnya, juga harus mengurus material pengisi sehingga diperlukan lebih banyak karyawan terutama jika material pengisi harus diambil lebih jauh.
  • Untuk bentuk endapan bijih yang tidak teratur, maka batuan samping harus sering digali.
  • Setiap kali akan dilakukan peledakan, maka harus mempersiapkan alat untuk memisahkan material pengisinya dari bijih, berarti ada ongkos tambahan.
  • Ongkos penambangannya mahal, Jadi hanya endapan bijih dengan nilai tinggi bisa ditambang dengan metode ini.
  • Endapan bijih yang tipis tetapi perlu penambangan yang lebar untuk mendapatkan ruang kerja yang leluasa dan enak. Jika ditambang selebar ore body tidak mungkin jadi terpaksa diperlebar dengan konsekuensi country rock harus diambil lebih dulu, batuan samping diambil sebagian untuk filling dan sebagian dibuang.


Permodelan Tambang Bawah Tanah (Block Caving)


Regards Michanarchy...


LAPORAN PRAKTIKUM
TAMBANG BAWAH TANAH
2013


Block caving adalah metode penambangan yang bertujuan untuk memotong bagian bawah dari blok bijih sehingga blok bijih tersebut mengalami keruntuhan. Metode ini diterapkan terutama pada blok badan bijih yang besar karena tingkat produksinya yang lebih tinggi. Bidang pada massa batuan dengan ukuran yang sudah ditentukan diledakkan pada tahap level undercut sehingga massa batuan yang berada di atasnya akan runtuh. Penarikan bijih hasil runtuhan pada bagian bawah kolom bijih menyebabkan proses runtuhan akan berlanjut ke atas sampai semua bijih di atas level undercut hancur menjadi ukuran yang sesuai untuk proses selanjutnya.




Area dan volume dari bijih yang dipindahkan pada bagian bawah blok pada saat undercutting harus seluas mungkin untuk memulai terjadinya peronggaan massa batuan di atasnya, dan akan berlangsung dengan sendirinya. Penarikan bijih yang berada di bawah bagian blok memberikan tempat untuk bijih yang hancur terkumpul dan memberikan proses peronggaan berlanjut ke atas sampai semua bijih pada blok batuan runtuh dan ditarik. Jika diaplikasikan dengan benar, metode block caving dapat memberikan biaya rendah daripada metode penambangan lainnya.


Penerapan Metode Penambangan Block Caving

Block caving dapat diterapkan pada cadangan bijih yang tebal (<30 m), batuannya mempunyai kekuatan yang seragam dan mempunyai batas yang jelas. Perencanaan yang matang, prosedur kerja yang sistematis, pengawasan yang ketat dan keputusan yang tepat merupakan kunci keberhasilan. Keberhasilan operasi penambangan block caving sangat dipengaruhi oleh karakteristik bijih diantaranya adalah pola retakan yang sesuai. Harus tersedia bidang horizontal yang cukup agar undercut dapat memulai proses runtuhan. Pembentukan rongga terjadi secara alami karena lapisan bijih yang terletak di bawahnya dipindahkan dan karena berat lapisan di atasnya menghancurkan bijih tersebut.


Persiapan Penambangan (Development) 

Development harus sesuai dengan karakteristik dari badan bijih. Pada daerah dengan batuan relatif kuat (< 100 MPa) hanya dibutuhkan penyangga yang sedikit pada level produksi. Metode penambangan ini membutuhkan waktu dan modal yang besar untuk pekerjaan development sebelum produksi dapat direalisasikan. 

Development untuk block caving biasanya luas dan mahal tetapi secara keseluruhan lebih murah daripada sublevel caving. Penambangan level utama dimulai dari shaft (jalur yang menghubungkan dengan area kerja tambang bawah tanah), bertujuan agar pengangkutan lebih cepat dan besar serta kapasitas aliran udara ventilasi yang cukup. Jalur pengangkutan utama umumnya pararel, dihubungkan dengan cross cut (terowongan silang), untuk memastikan ventilasi yang baik dan untuk memberikan tempat yang cukup untuk pengangkutan dan juga penyediaan sarana pendukung lainnya. 

Development yang paling penting adalah undercutting, dimana merupakan permulaan peronggaan dengan membuang pilar pada bijih. Karena meliputi bukaan yang besar dan bijih yang berat di atas, bahaya jatuhnya bijih terlalu dini, blok bijih yang menggantung dan tidak dapat turun ke draw point, atau aliran udara cepat karena adanya tekanan tiba-tiba dapat terjadi. Tekanan batuan yang besar yang terjadi pada bukaan harus diantisipasi dengan penguatan. 

Penguatan seperti penyangga pada umumnya diperlukan saat pembuatan bukaan (raise, orepass, jalur pengangkutan, dll) yang membantu fungsi produksi. Pada saat ini peran geotech engineering sangat diperlukan untuk pemasangan penyangga yang dibutuhkan pada setiap lubang bukaan yang dibuat terutama pada level produksi. Bahan yang digunakan untuk penyangga antara lain shotcrete, steelset, concrete, dan rockbolt


Sistem Produksi Block Caving 

Seperti pada penambangan bawah tanah untuk batuan keras lainnya, daur development dan produksi terpisah dengan jelas. Masing-masing menggunakan mekanisasi tinggi tetapi peralatan yang digunakan sesuai dengan fungsinya sendiri-sendiri. Produksi pada tambang block caving terdiri dari :
  1. Pemboran (daerah undercut). Menggunakan alat pneumatic dan rotary - percussion.
  2. Peledakan (daerah undercut). Bahan peledak yang digunakan umumnya adalah emulssion.
  3. Pemuatan (dari drawbell atau orepass). Peralatan yang digunakan adalah loader.
  4. Pengangkutan (pada level utama). Peralatan yang digunakan adalah LHD, truck, dan belt conveyor
Level undercut terdapat di atas level produksi. Undercutting dilaksanakan pada jalur pararel di level undercut yang mana biasa disebut dengan daerah drill drift. Pada level ini dilakukan serangkaian kegiatan pemboran yang bertujuan membuat lubang ledak.


Keuntungan Metode Penambangan Block Caving 

Adapun keuntungan dari metode block caving, yaitu : sistem penambangan ini tidak terlalu mahal dibandingkan dengan sistem penambangan lainnya karena relatif sedikitnya pemboran, peledakan, dan penyanggaan.


Kerugian Metode Penambangan Block Caving 

Adapun kerugian dari metode block caving, antara lain :
  • Permintaan produksi yang meningkat tidak dapat langsung dipenuhi karena dibutuhkan waktu yang lama untuk mempersiapkan blok tambahan untuk produksi.
  • Penghentian penarikan bijih selama waktu tertentu akan menyebabkan kehilangan bukaan yang telah ada pada area yang berpengaruh jika bukaan tersebut merupakan titik konsentrasi berat.
  • Metode ini tidak fleksibel karena sulit dilakukan penambangan ke bentuk penambangan bawah tanah lainnya.
  • Peronggaan dan penurunan permukaan tanah terjadi dalam skala besar sehingga permukaan tanah cukup berbahaya.
  • Pemeliharaan bukaan di daerah produksi sangat penting dan mahal jika terbentuk pilar yang menerima beban terlalu besar.



Permodelan Tambang Bawah Tanah (Longwall)


Regards..Michanarchy...

LAPORAN PRAKTIKUM
TAMBANG BAWAH TANAH
2013


Metode longwall ini digunakan khusus untuk bahan galian batubara. Perolehannya tinggi, karena mengambil sebagian besar batubara. Front kerja dapat dipusatkan, karena dapat berproduksi besar di satu front kerja. Pada umumnya, untuk kemiringannya landai, mekanisme pengambilan batubara, pengangkutan, dan penyanggaan menjadi mudah, sehingga dapat meningkatkan efisiensi pengambilan batubara. Karena dapat memusatkan front kerja, panjang lorong yang dirawat terhadap jumlah produksi batubara menjadi pendek. Menguntungkan dari segi keamanan, karena ventilasinya mudah dan swabakar yang timbul juga sedikit. Karena dapat memanfaatkan tekanan batuan, pemotongan batubara menjadi mudah. Apabila terjadi hal-hal seperti ambrukan permukaan kerja dan kerusakan mesin, penurunan produksi batubaranya besar.



Penerapan Metode Penambangan Longwall 

Kondisi endapan yang cocok untuk metode ini yaitu sebagai berikut :
  • Ketebalan endapan sedang, yaitu 2-4 meter.
  • Memiliki banyak cleat / joint, tetapi tidak boleh mudah runtuh. Sehingga penyanggaan dapat segera dipasang di dekt front penggalian.



Persiapan Penambangan (Development)

Tambang longwall mencakup penambangan batubara secara penuh dari suatu bagian lapisan atau "muka" dengan menggunakan gunting-gunting mekanis. Tambang longwall harus dilakukan dengan membuat perencanaan yang hati-hati untuk memastikan adanya geologi yang mendukung sebelum dimulai kegiatan penambangan. Kedalaman permukaan batubara bervariasi di kedalaman 100-350 m. Penyangga yang dapat bergerak maju secara otomatis dan digerakkan secara hidrolik sementara menyangga atap tambang selama pengambilan batubara. Setelah batubara diambil dari daerah tersbut, atap tambang dibiarkan ambruk. Lebih dari 75% endapan batubara dapat diambil dari panel batubara yang dapat memanjang sejauh 3 km pada lapisan batubara.


Sistem Produksi Longwall

Ada 2 (dua) cara penambangan dengan menggunakan metode Longwall, yaitu :
  1. Cara maju (advancing)
  2. Cara mundur (retreating)
Pada penambangan dengan metode maju longwall, terlebih dahulu dibuat lubang maju yang nantinya akan berfungsi sebagai lubang utama (main gate) dan lubang pengiring (tail gate), dibuat bersamaan pada pengambilan batubara dari lubang bukaan tersebut. 
Kedua lubang bukaan tersebut digunakan sebagai saluran udara yang diperlukan untuk menyediakan udara bersih pada lubang bukaannya disamping untuk keperluan transportasi batubaranya dan keperluan penyediaan material untuk lubang bukaannya.
Metode ini akan memberikan hasil lebih cepat karena tidak memerlukan waktu menunggu lubang yang diperlukan yaitu lubang utama dan lubang pengiring.
Sedangkan pada metode mundur longwall merupakan kebalikan dari metode advancing longwall karena pengambilan batubara belum dapat dilakukan sebelum selesai dibuatnya suatu panel yang akan memberikan batasan lapisan batubara yang akan diekstrasi (diambil).
Keuntungan dan Kerugian dari Metode Penambangan Longwall 
Adapun keuntungan dan kerugian dari metode longwall, antara lain :
  • Permintaan produksi yang meningkat tidak dapat langsung dipenuhi karena dibutuhkan waktu yang lama untuk mempersiapkan blok tambahan untuk produksi.
  • Recoverynya tinggi karena menambang sebagian besar batubara.
  • Permulaan kerja dapat dipusatkan karena dapat berproduksi besar.
  • Apabila kemiringannya landai maka mekanisasi penambangan, transportasi, dan penyanggaan menjadi beda sehingga dapat meningkatkan efisiensi penambangan.
  • Karena dapat memusatkan permukaan kerja, panjang terowongan yang dikerjakan terhadap produksi batubara menjadi panjang.
  • Menguntungkan dari segi keamanan karena ventilasinya mudah dari swabakar / self combustion yang timbul juga sedikit.
  • Karena dapat menguatkan tekanan bumi, pemotongan batubara menjadi mudah.
  • Apabila terjadi hal-hal keruntuhan kerja dan kerusakan mesin, maka penggunaan produksi batubaranya besar. 

Permodelan Tambang Bawah Tanah (Room and Pillar)

Salam Michanarchy...


LAPORAN PRAKTIKUM
TAMBANG BAWAH TANAH
2013


Room and pillar method merupakan salah satu metode penambangan bawah tanah (underground mine) yang memanfaatkan cadangan yang tidak diekstrasi sebagai penyangga atau disebut sebagai pillar. Metode ini cocok digunakan pada lapisan cadangan yang memiliki ketebalan lebih dalam. Untuk lapisan cadangan bahan galian yang lebih tipis, metode longwall lebih cocok untuk diterapkan.




Pada metode room and pillar, ekstrasi cadangan akan efisien jika cadangan yang dijadikan sebagai pilar atau penyangga turut pula diekstrasi dengan cara penambangan mundur (retreat mine) sehingga recovery cadangan lebih banyak lagi presentasinya dibandingkan jumlah seluruh cadangan yang terdapat pada lokasi tersebut. 


Penerapan Metode Penambangan Room and Pillar   

Room and pillar method lebih tepat digunakan pada material bahan galian sedimen yang cenderung tersebar dengan ketebalan merata dengan lapisan yang cenderung datar (flat) dan dengan ketebalan tertentu. Contoh bahan galian yang relatif lebih cocok menggunakan room and pillar method seperti gypsum, kapur, batubara, dan bahan-bahan galian lainnya yang memungkinkan dan memenuhi syarat ditambang menggunakan room and pillar method

Cara penambangan ini diterapkan untuk endapan dengan kondisi sebagai berikut :
  • Endapan cukup tebal 3-6 m.
  • Joint / cleat tidak banyak, sehingga tidak mudah runtuh.
  • Tidak banyak disisipi tanah liat (clay bonds).



Persiapan Penambangan (Development)

Metode penambangan room and pillar diterapkan untuk endapan mendatar. Endapan ditambang dengan memotong jaringan ruang ke dalam lapisan dan membiarkan pilar dari endapan untuk menyangga atap tambang. Pilar-pilar tersebut terbentuk dari sekitar 40% bahan galian yang dapat ditambang pada tahapan tambang selanjutnya. Ukuran pilar diperhitungkan berdasarkan beban atap atau berat overburden di atas penggalian dan batuan di sekitar penggalian.


Sistem Produksi Room and Pillar

Penambangan batubara tersebut dapat dilakukan dengan 2 metode, yaitu mechanical - conventional method, dimana alat gali muat dan alat angkut bergerak dari satu tempat ke tempat lain, seperti coal cutting machine, loading machine, dan shuttle car, serta continuous mining method, dimana alat gali muat dan alat angkut tidak bergerak, menggunakan continuous miner dan belt conveyor.


Keuntungan Metode Penambangan Room and Pillar 

Adapun keuntungan dari metode Room and pillar, yaitu :
  • Produktivitas besar.
  • Biaya penambangan sedang (biaya relatif 30%).
  • Serbaguna untuk berbagai kondisi atap.
  • Operasi terkonsentrasi (meskipun banyak ruang kerja yang diperlukan untuk siklus alat).
  • Cocok untuk menggunakan peralatan mekanis secara menyeluruh, tidak banyak tenaga kerja.


Kerugian Metode Penambangan Room and Pillar 

Adapun kerugian dari metode room and pillar, antara lain:
  • Permintaan produksi yang meningkat tidak dapat langsung dipenuhi karena dibutuhkan waktu yang lama untuk mempersiapkan blok tambahan untuk produksi.
  • Runtuhan dan subsiden (penurunan muka tanah) terjadi seiring dengan banyaknya pilar yang diekstrasi.
  • Recovery sedikit (40-60%) tanpa mengekstrasi pilar, akan bagus (70-90%) dengan ekstrasi pilar.
  • Tekanan tanah dan memerlukan alat yang banyak dalam setiap kedalaman. 
  • Modal awal tinggi terutama berhubungan dengan alat mekanis.
  • Potensi bahaya pada kesehatan dan keamanan bawah tanah, khususnya tambang batubara.



Metode Tambang Bawah Tanah


Laporan Praktikum
Tambang Bawah Tanah
2013

Ada beberapa macam metode tambang bawah tanah, diantaranya :


1. Open Stope

Open stope adalah salah satu metode penambangan bawah tanah. Open stope adalah penambangan tanpa membuat penyangga-penyangga. Syarat bahan galian yang dapat ditambang dengan metode ini adalah atapnya cukup kuat menahan beban tanpa disangga atau bisa disebut juga cukup kompeten. 


2. Supported Stope

Dalam metode penambangan (pada umumnya mineral logam) bawah tanah ini yaitu dengan cara membuat penyangga-penyangga. Dalam penyanggaan, bahan yang bisa digunakan yaitu seperti kayu, besi, beton, atau baut besi (roof bolting). 


3. Longwall

Longwall adalah suatu sistem penambangan bawah tanah untuk endapan batubara dengan membuat lorong-lorong panjang, secara mekanis dan bagian dari front penambangan yang sudah selesai ditambang dibiarkan runtuh dengan sendirinya (caving).


4. Shortwall

Shortwall adalah penambangan bawah tanah untuk endapan batubara, dengan membuat lorong-lorong yang ukurannya lebih kecil atau lebih pendek dari longwall


5. Room and Pillar

Room and Pillar merupakan suatu sistem penambangan bawah tanah untuk endapan batubara dengan menggunakan penyangga-penyangga yang umumnya terbentuk dari endapan batubara itu sendiri, dengan bentuk blok-blok persegi.


6. Cut and Fill

Cut and Fill adalah salah satu metode penambangan dengan cara menggali atau membuat bukaan, kemudian mengisinya kembali dengan material lain bekas bukaan tersebut


7. Gophering

Dalam metode penambangan ini dengan membuat bukaan-bukaan berukuran relatif kecil dan sempit secara tidak beraturan, atau dikenal sebagai lubang tikus. 


8. Block Caving

Merupakan suatu sistem penambangan bawah tanah, dengan cara meruntuhkan bagian yang sudah selesai ditambang (mined out).


     

Penerapan Tambang Bawah Tanah

LAPORAN PRAKTIKUM
TAMBANG BAWAH TANAH
2013





Prinsip pokok eksploitasi tambang bawah tanah adalah memilih metode penambangan yang paling cocok dengan keunikan karakter (sifat alamiah, geologi, lingkungan, dll) endapan mineral dan batuan yang akan ditambang, dengan memperhatikan batasan tentang keamanan, teknologi, dan ekonomi. Batasan keekonomian berarti bahwa dengan biaya produksi yang rendah tetapi diperoleh keuntungan pengembalian yang maksimum (return the maximum profit atau return ROR), serta lingkungan.


Untuk menentukan tambang bawah tanah harus memperhatikan :
  1. Karakteristik penyebaran deposit atau geometri (massive, vein, disseminated, tabular, platy, sill, dll).
  2. Karakteristik geologi dan hidrologi (patahan, sesar, air tanah, permeabilitas).
  3. Karakteristik geoteknik (kuat tekan, kuat tarik, kuat geser, kohesi, Rock Mass Rating, Q-System, dll).
  4. Faktor-faktor teknologi (hadirnya teknologi baru, penguasaan teknologi, sumber daya manusia, dll).
  5. Faktor lingkungan (limbah pencucian, tailing, amblesan, sedimentasi, dll).